Bab Bimbingan dan Konseling PDF

Summary

Dokumen ini membahas landasan bimbingan dan konseling, termasuk landasan filosofis, psikologis, dan perkembangan individu. Di dalamnya, dibahas juga motif dan motivasi, serta faktor lingkungan. Ini sangat relevan untuk membantu konselor memahami berbagai aspek perkembangan individu.

Full Transcript

BAB III LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Landasan Filosofis Landasan Filosofi merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman secara khusus dalam melaksanakan setiap be kegiatan bimbingan dan konseling. Landasan filosofi dalam pelaksanaan bimbingan dan k...

BAB III LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Landasan Filosofis Landasan Filosofi merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman secara khusus dalam melaksanakan setiap be kegiatan bimbingan dan konseling. Landasan filosofi dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling cenderung berkenaan dengan pertanyaan- pertanyaan filosofis tentang hakikat manusia. Tanpa memahami filsafat tentang manusia, pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling akan menjadi tidak optimal hasilnya. Oleh karena itu, setiap pelaksana layanan bimbingan dan konseling harus memperhatikan landasan filosofis secara sungguh-sungguh. B. Landasan Psikologi Manusia terus berkembang dan mengalami perubahan secara bertahap sehingga berpengaruh besar terhadap penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di berbagai bidang. Oleh karena itu, landasan yang kedua untuk memperkuat layanan bimbingan dan konseling adalah landasan psikologis. Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Juntika (2000:1) menyampaikan bahwa landasan psikologis berkaitan erat dengan proses perkembangan manusia yang sifatnya unik; berbeda dari individu lain dalam perkembangannya. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang: (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan; (c) perkembangan individu; (d) belajar, dan (e) kepribadian. 1. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkaitan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku, baik motif primer maupun motif sekunder. Motif primer 48 adalah motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti rasa lapar, bernapas, dan sejenisnya. Sedangkan motif sekunder adalah motif yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan, baik dari dalam din individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Oleh karena itu, pelaksana layanan bimbingan dan konseling diwajibkan dapat memahami motif dan motivasi seseorang. 2. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan memengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahır dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan. Untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan di mana individu itu berada. Schopenhauer dengan aliran Nativismenya mengatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan atau heriditas. Kemudian John Lock dengan aliran Empirismenya mengatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (dalam hal ini diperlukan pendidikan). Akhirnya, timbullah aliran Konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal, atau bahkan sangat kurang (debil, embisil, atau idiot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang 49 kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun, ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik dan menjadi tersia-siakan. 3. Perkembangan Individu Perkembangan individu, berkaitan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang berlangsung sejak masa konsepsi (pro- natal) hingga akhir hayatnya, tidak ada yang sama satu dengan lainnya Perkembangan tersebut meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya. la juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dengan kata lain, layanan pemberian bimbingan dan konseling setiap peserta didik berbeda-beda. 4. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep psikologi yang amat mendasar. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dengan belajar, manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor/ keterampilan. Agar terjadi proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan ataupun hasil belajar sebelumnya. 50 5. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) ditemukan hampir lima puluh definisi kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurutnya, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko- fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai: "Suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan." C. Landasan Sosial Kultural (Budaya) Kebutuhan akan layanan bimbingan dan konseling timbul karena adanya masalah-masalah yang dihadapi individu yang tidak terlepas dari aspek sosiokultural atau kebudayaan. Dalam layanan bimbingan, sangat perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan faktor-faktor sosiologis seperti yang ungkapkan Rochman Natawidjaja (1987), yaitu posiadanian konstelasi keluarga, perkembangan pendidikan, dunia kerja, perkembangan komunikasi, sekisme dan rasisme, kesehatan mental, Perkembangan teknologi, kondisi moral dan keagamaan, dan kondisi sosial ekonomi. Landasan sosial budaya/kultural merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi sosial dan budaya sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial budaya di mana ia hidup. Sejak lahir, ia sudah dididik dan diajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial 51 budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial budaya dapat mengakibatkan seorang individu tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi setiap individu berbeda-beda. Hal itu juga menyebabkan perbedaan dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial budaya ini tidak "dijembatani", maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien pasti akan terjadi dalam proses konseling. Tentunya konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuaian diri antarbudaya, yaitu: (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi nonverbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai, dan (e) kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa nonverbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda- beda, bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subjektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain dapat menghasilkan penilaian positif, tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yang berlebihan berkaitan dengan suasana antarbudaya dapat mengakibatkan culture shock, yang menyebabkan individu tersebut tidak tahu sama sekali apa, di mana, dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komunikasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, kita perlu mengantisipasi kelima hambatan komunikasi tersebut. 52 D. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun praktik. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode, seperti pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventori, atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks, dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan, dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003). Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat multireferensial. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktik bimbingan dan konseling, seperti psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiolog, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum, dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun praktiknya. Selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karir dan bimbingan dan konseling pendidikan. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk cyber counseling. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan 53 dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, konselor berperan pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (dalam Prayitno, 2003). Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Guru BK maupun guru mata pelajaran disarankan untuk menguasai keterampilan penggunaan teknologi modern karena dunia maya akan menjadi peluang untuk dapat digunakan sebagai media dalam layanan bimbingan dan konseling. E. Landasan Pedagogis Ditambahkan oleh Prayitno (2003), berkenaan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, bahwa dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dalam segala bidang diperlukan pula landasan pedagogis yang ditinjau dari tiga segi, yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan salah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. F. Landasan Religius Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu: (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perkembangan perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan perkembangan dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah Ditegaskan pula oleh Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan 54 konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Tren bimbingan ini berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa barat mng ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan Dewasa ini, muncul kecenderungan menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kondisi ini telah mendorong berkembangnya bimbinga dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. G. Landasan Yuridis Formal Landasan yuridis formal berkaitan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Berdasarkan landasan-landasan di atas, pentingnya pelaksanaan bimbingan dan konseling di dunia pendidikan, baik itu di pendidikan formal, nonformal, dan informal telah sesuai dengan berbagai landasan sebagai dasar hukum tertulis pelaksanaan bimbingan dan konseling. 55 BAB IV BIMBINGAN KARIR Pemahaman terhadap dunia kerja menjadi hal penting bagi masyarakat sebagai bekal dan persiapan memasuki dunia kerja. Hal-hal yang menjadi permasalahan umum bagi seseorang adalah kurangnya pemahaman untuk mengenal diri, yaitu mengetahui potensi dan mewaspadai kelemahannya, kurangnya kesiapan mental untuk bersaing di dunia kerja, kekurangtahuan tentang lingkup pekerjaan pada bidang pekerjaan yang ada di pasar tenaga kerja, serta pemahaman mengenai bagaimana strategi meniti karir mulai dari awal karir sampai dengan bagaimana upaya untuk meraih puncak karir yang dicita- citakan. Untuk itu, konseling karir dapat menjadi media bagi masyarakat untuk berbagi mengenai masalah-masalah karir dan atau hal- hal lain yang terkait karir. A. Pengertian Bimbingan Karir Bimbingan karir adalah bantuan layanan yang diberikan kepada individu- individu untuk memilih, menyiapkan, menyesuaikan dan menetapkan dirinya dalam pekerjaan yang sesuai serta memperoleh kebahagiaan daripadanya. Berkaitan dengan sekolah, bimbingan karir dapat dipandang sebagai suatu proses perkembangan yang berkesinambungan yang membantu terutama dalam hal perencanaan karir, pembuatan keputusan, perkembangan ketrampilan/ keahlian informasi karir, dan pemahaman diri. B. Tujuan Bimbingan Karir Tujuan bimbingan karir disekolah agar siswa memperoleh imformasi tentang karier atau jabatan atau profesi tertentu,agar siswa memperoleh pemahaman tentang karir, atau pekerjaan atau profesi tertentu secara benar,agar siswa mampu merencanakan dan membuat pilihan-pilihan karier tertentu kelak setelah selesai dari pendidikan, agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan karier yang dipilihnya di masa depan, agar siswa mampu mengembangkan karir setelah selesai dari pendidikan. 56 Selain itu,bimbingan karier juga bertujuan mengenal berbagai jenis jabatan yang terbuka baginya dan sekaligus bermakna serta memuaskan dan menghayati nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat yang berorientasi pada karier,mampu membuat keputusan-keputusan rasional sehubungan dengan tujuan-tujuan yang ingin diperjuangkan dalam bidang karir tertentu, melaksanakan keputusan- keputusan tersebut dalam bentuk mengintegrasikan nilai-nilai yang terkandung dalam karier serta sikap sikap yang dituntut dalam berkarir. Dengan kata lain ,tujuan bimbingan karir di sekolah adalah agar siswa mampu memahami, merencanakan, memilih menyusaikan diri dan mengembangkan karir-karir tertentu setelah mereka tamat dari pendidikan. Secara umum tujuan bimbingan karir dan konseling sebagai berikut: 1. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. 2. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi kerja. 3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apa pun, tanpa merasa rendah diri, asal ber- makna bagi dirinya dan sesuai dengan norma agama. 4. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pe- lajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang peker- jaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. 5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja. 6. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. 57 7. Mengenal keterampilan, minat, dan bakat. Keberhasilan atau kenya- manan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh minat dan bakat yang dimiliki. Oleh karena itu, setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Dalam bidang pekerjaan apa dia mampu dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. 8. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karier. C. Tahap Perkembangan Karir Pada Siswa Menurut para ahli karir seorang siswa itu berkembang dengan bertahap berdasarkan usia, berikut ini beberapa teori perkembangan karir yang dikemukan oleh para ahli: 1. Perkembangan Karir Menurut Ginzberg. Menurut teori ini perkembangan karir bersifat irevensible (pengalaman yang telah berlangsung tidak dapat ditiadakan), dan berakhir dengan kompromi. Perkembangan dibagi atas tiga fase utama : fase fantasi, fase tentative, dan fase realitas. a) Fase Fantasi Pada fase fantasi (samapi usia 10 tahun) bila anak anak ditanya keinginan “menjadi apa”, jawaban yang dikemukakan berdasarkan fantasi yang sesuai dengan budaya yang dikenalnya. Jawaban ini merupakan pandangan anak terhadap masyarakat dan bukan kemampuan atau keinginan. b) Fase Tentatif Fase tentatif (pada usia 11 sampai 17 tahun) anak mulai mengenal lebih luas dimensi-dimensi masalah dan pemilihan pekerjaan. Pilihan sudah berdasarkan kemungkinan kepuasan di masa datang, bukan kepuasan sekarang. Fase ini dibagi 4 sub fase: 1) Pada usia 11-12 tahun pilihan dan perencanaan yang dilakukan berdasrkan minat. Ia telah memahami apa yang disenangi dan apa 58 yang tidak disenangi dan memilih secara tentatif berdasarkan faktor subyektif ini. 2) Pada usia 13-14 tahun, ia mulai memilih berdasarkan kapasitas yang dirasakan dimiliki. Pada saat ini anak merasa ia pandai di sekolah sehingga memilih belajar lebih lanjut, atau ia merasa unggul dalam matematika, sehingga akan memilih bidang-bidang yang memenggunakan matematika, ia mungkin merasa unggul dibidang olah raga dan ingin melanjutkan ke pendidikan olah raga, dan seterusnya. 3) Sub fase 15-16 tahun ialah fase nilai (value) anak mulai memikirkan nilai yang penting baginya seperti mementingkan uang, kebebasan, prestise, atau nilai-nilai lainnya. 4) Sub fase selanjutnya ialah masa transisi kepertimbangan realitas. Ini didorong oleh kenyataan bahwa nilai-nilai yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk pekerjaan tergantung pada struktur sosial dan ekonomi masyarakat. 2. Perkembangan Karir Menurut Donal E. Super Unsur mendasar dalam pandangan Super adalah konsep diri atau gambaran diri sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukukan dan jabatan yang akan dipegang vocational self concept, yang merupakan sebagian dari keseluruhan gambar tentang diri sendiri. Seseorang mewujudkan gambaran diri dalam suatu bidang jabatan yang mengekspresikan diri sendiri. Teori perkembangan lain dikemukakan oleh Donal E. Super dalam The Psychology of Careers. Perkembangan karir tidak lain adalah proses perkembangan konsep diri dan perkembangan implementasi konsep diri ini. Konsep diri seseorang berubah mengikuti waktu dan pengalaman, pilihan pekerjaannya dapat berubah. Super membagi perkembangan karir menjadi 5 fase: 59 a) Fase Pertumbuhan anak-anak mulai mengembangkan konsep diri (self concept). Dari mengamati orang tua dan orang dewasa lain dalam lingkungannya mereka mengenal peran peran yang berbeda yang dilakukan orang-orang ini. Semakin bertambah umur maka semakin luas lingkungan kehidupan semakin banyak peran-peran yang dikenal. Fase pertumbuhan dimilai dengan mencoba berbagai peran nelalui permainan fantasi misal menjadi pilot pesawat terbang, polisi, guru dan sebagainya. Selanjutnya anak akan mempertimbangkan minat, kemampuan, persyaratan pekerjaan dan kesempatan. b) Fase penjajagan, pada fase ini terjadi uji kenyataan yang lebih luas yang dapat berakibat modifikasi konsep diri. Pertama anak dihadapkan pada keputusan penting mengenai pendidikan, dan pemantauan pekerjaan masa depan secara serius dipertimbangkan. c) Fase penetapan, pada fase ini setelah beberapa kali trial and error kebanyakan orang akan tampak mulai lebih mantap dalam pilihan pekerjaan. Identifikasi sudah terkait dengan pekerjaan yang dipilihnya. Mulai mengumpulkan pengalaman dan mengasimilasi diri dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerkaan itu. d) Fase pemeliharaan, pada fase ini pekerjaan yang dipilih kemudian ditekuni. Usaha ditunjukkan untuk mempertahankan kedudukan yang telah diperoleh dalam pekerjaan, keluarga, dan dalam keluarga. e) Fase penurunan, fase ini adalah fase pengurangan kegiatan pekerjaan dan berakhir dengan pension. Aspek-aspek perkembangan dari teori Super memberikan penjelasan tentang berbagai faktor yang mempengaruhi proses pemilihan karir. Perkembangan karir merupakan proses seumur hidup yang terjadi pada periode-periode perkembangan tertentu. Konsep diri terbentuk pada saat masing-masing fase kehidupan mendesakkan pengaruhnya pada perilaku manusia. 60 3. Perkembangan Karir Menurut John L. Holland Holand berpegang pada keyakinannya bahwa suatu minat yang menyangkut pekerjaan dan jabatan adalah hasil perpaduan dari sejarah hidup seseorang dan keseluruhan kepribadiannya, sehingga minat tertentu akhirnya menjadi suatu ciri kepribadian yang berupa ekspresi diri dalam bidang pekerjaan bidang studi akademik, hobi inti, bebagai kegiatan rekreatif dan banyak kesukaan lainnya. Teori tipe kepribadian Holand menjelaskan perlu dilakukan suatu usaha agar pemilihan karir seseorang sesuai dengan kepribadiannya. Menurut Holand, begitu orang menemukan karir yang sesuai dengan kepribadiannya ia akan lebih menikmati pekerjaan tersebut dan bekerja dibidang tersebut lebih lama daripada orang yang bekerja di bidang yang tidak cocok dengan kepribadiannya. Holland juga merumuskan tipe-tipe (golongan) kepribadian dalam pemilihan pekerjaan berdasarkan atas inventori kepribadian yang disusun atas dasar minat. Adapun model orientasi yang dijabarkan oleh John L. Holland adalah sebagai berikut: a) Realistis Tipe model ini memilik kecenderungan untuk memilih lapangan kerja yang berorientsi pada penerapan. Ciri-cirinya yaitu agresif, pada dasarnya kurang dapat bergaul, interaksi interpersonal buruk, mengutamakan kejantanan, kekuatan otot, ketrampilan fisik, mempunyai kecakapan, keterampilan otot, koordinasi motorik yang kuat kurang memiliki kecakapan yang verbal, kongkrit, bekerja praktis, kurang memiliki keterampilan sosial, serta kurang peka dalam hubungan dengan orang lain. Contoh pekerjaan orang dengan model orientasi ini adalah pekerja terampil seperti tukang pipa, tukang listrik, dan operator mesin. Keterampilan teknisi seperti juru mesin pesawat terbang, juru foto, juru draft dan pekerjaan servis tertentu. 61 b) Investigatif atau Intelektual Tipe model ini memiliki kecenderungan untuk memilih pekerjaan yang bersifat akademik. Ciri-cirinya adalah memiliki kecenderungan untuk merenungkan dari pada mengatasinya dalam memecahkan suatu masalah, berorientasi pada tugas, tindak sosial. Membutuhkan pemahaman, menyenangi tugas tugas yang bersifat kabur, memiliki nilai-nilai dan sikap yang tidak konvensional dan kegiatan-kegiatan bersifat intraseptif. Contoh pekerjaan orang model orientasi ini terbagi dalam 2 kategori yaitu ilmiah seperti ahli kimia, ahli fisika, dan ahli matematik serta teknisi seperti teknisi lab, programer komputer, dan pekerja elektronik. c) Artistik Tipe model orientasi ini memiliki kecenderungan berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung, bersifat sosial dan sukar menyesuaikan diri. Orang dengan model ini memiliki ciri-ciri imaginatif, menghargai estetika, lebih menyukai ekspresi diri artistik lebih menitik beratkan menghadapi keadaan sekitar dilakukan dengan melalui ekspresi diri menghindari keadaan yang bersifat intrapersonal, keteraturan, atau keadaan yang menuntut ketrampilan fisik. Contoh pekerjaan orang artistik ada tiga bidang yaitu artistik seperti pematung, pelukis, dan desainer. Musikal seperti guru musik, pemimpin orkestra, dan musisi. Sastrawan/sastrawati seperti editor, penulis, dan kritikus. d) Sosial Tipe model ini memiliki kecenderungan untuk memilih lapangan pekerjaan yang bersifat membantu orang lain. Ciri ciri dari tipe model ini adalah pandai bergaul dan berbicara, bersifat responsif, bertanggung jawab, kemanusiaan, bersifat religius, membutuhkan perhatian, memiliki kecakapan verbal, hubungan antar pribadi, kegiatan-kegiatan rapi dan teratur, menjauhkan bentuk pemecahan masalah secara intelektual, lebih berorientasi pada perasaan dan tertarik pada kegiatan pendidikan. Contoh 62 pekerjaan model orientasi ini adalah Edukasional seperti guru, administrator pendidikan, dan profesor. Kesejahteraan sosial seperti pekerja sosial, sosiolog, konselor rehabilitasi, dan perawat profesional. e) Pengusaha Tipe model ini memiliki ciri khas diantaranya menggunakan keterampilan-keterampilan berbicara dalam situasi dimana ada kesempatan untuk menguasai orang lain atau mempengaruhi orang lain, menganggap dirinya paling kuat, jantan, mudah untuk mengadakan adaptasi dengan orang lain, menyukai tugas-tugas sosial yang bersifat kabur, perhatian yang besar pada kekuasaan, status, dan kepemimpinan, agresif dalam kegiatan lisan, extrovert, petualang, persuasif, dan memanfaatkan keterampilan verbal yang baik. Contoh pekerjaan orang dengan model ini adalah manajerial, pemasaran seperti sales person asuransi, real estate, dan mobil. f) Conventional Tipe model ini pada umumnya memiliki kecenderungan untuk kegiatan verbal, lebih menyenangi bahasa yang tersusun rapi, numerical (angka) yang teratur, menghindari situasi kabur, senang mengabdi, mengidentifikasikan diri dengan kekuasaan, memberi nilai yang tinggi terhadap status dan kenyataan materi, mencapai tujuan dengan mengadaptasikan dirinya ketergantungan pada atasan, praktis, terkendali, bisa bergaul, agak konservatif, dan menyukai aturan-aturan dengan sanksi masyarakat. Orang model orientasi konvensional pada lingkungan nyatanya ditandai dengan berbagai macam tugas dan pemecahan masalah memerlukan suatu proses informasi verbal dan matematis secara continue, rutin, konkrit, dan sistematis. Berhasilnya dalam pemecahan masalah akan Nampak dengan jelas dan memerlukan waktu yang relatif singkat. Contoh pekerjaan orang dengan model orientasi ini adalah pekerja kantor dan 63 administrasi seperti penjaga waktu, petugas file, teller, akuntan, operator, sekretaris, petugas pembukuan, resepsionis, dan menejer kredit. 64